Wabah Difteri. Kita selangkah lebih lambat dari kuman tua


Di akhir tahun 2017 ini, negara kita dihebohkan oleh merebaknya penyakit difteri yang disebabkan oleh Corynebacterium diptheriae. Bakteri difteri ditemukan berbentuk basil oleh ahli bakteriologi Edwin Klebs dan Friedrich Loffler tahun 1884, oleh karena itu penyakit ini bisa disebut dengan Klebs-Loffler Bacillus.

Gejala penyakitnya salah satunya adalah munculnya pseudomembran di tenggorokan yang berwarna  putih keabu-abuan dan  tak mudah lepas serta mudah berdarah, sakit waktu menelan, serta  leher membengkak seperti leher sapi (bullneck,) akibat  pembengkakan  kelenjar getah bening di leher. Selain itu terjadi pula sesak nafas disertai suara mendengkur (stridor). Toksik atau racun yang diproduksi oleh bakteri difteri menyebabkan kematian.



Sebelum terserang sebuah penyakit dari virus maupun bakteri, antibody akan bekerja menangkal semua benda asing tersebut dari luar tubuh agar tidak terinfeksi. Namun, ternyata anak-anak dan balita memiliki antibody yang lebih lemah dari orang dewasa, sebab inilah penyakit difteri banyak menyerang mereka. Yang menjadi masalah adalah status kelengkapan imunisasi menyebabkan kekebalan tubuh untuk membaca penyakit difteri agar dapat ditanggulangi oleh tubuh sendiri.

Pemerintah, instansi kesehatan beregerak untuk menanggulangi penyakit ini. Meskipun bukan disebut wabah, namun kewaspadaan itu perlu ditingkatkan sehingga masyarakat lebih aware (memperhatikan) masalah kesehatan ini. Imunisasi dilakukan pada umur 0-15 tahun serentak pada daerah yang terdapat kasus difteri.

Perlu diketahui selain dari kontak langsung dari percikan ludah, difteri dapat disebarkan oleh orang yang positif difteri (gejala dan laborat hasil positif) dan carrier difteri (gejala tidak ada namun laborat hasil positif).

Apabila imunisasi berhasil, maka tidak akan ada lagi wabah penyakit infeksi yang telah tua ini.
Namun kenyataannya masih terjadi.


Sebagai negara berkembang, kita masih berada selangkah di belakang bakteri yang telah tua. Mengapa hal ini terjadi?

Meskipun sudah mendapatkan kekebalan tubuh lewat imunisasi, seringkali kita tidak memperhatikan kondisi kekebalan tubuh yang menurun. Selain kondisi tubuh, iklim tropis dan cuaca yang tidak menentu menyebabkan kondisi tubuh menurun. Lingkungan yang teratur dengan kondisi cuaca dan iklimya sekarang telah berubah menjadi tidak dapat diprediksi karena perubahan iklim global oleh pemanasan global. Kondisi ini menguntungkan bagi bakteri dan kroni-kroni nya untuk berkembang bebas.

Seharusnya, dengan kondisi yang tidak dapat diprediksi ini, kita lebih waspada dengan kondisi tubuh. Apabila nantinya kita bisa memadukan vaksinasi dan imunisasi sebagai langkah awal pencegahan ditambah dengan penjagaan kondisi tubuh yang lebih tidak menguntungkan bagi bakteri patogen (penyakit) maka, kita bisa selangkah lebih maju dari bakteri-bakteri yang sudah tua itu.


Disamping informasi kesehatan yang sudah sangat mudah untuk diakses dari manapun itu dapat menguntungkan untuk kita, pemberdayaan kesehatan untuk masyarakat masih perlu dilakukan diseluruh wilayah indonesia dalam menangani segala penyakit terutama penyakit infeksi seperti difteri. Tatkala kita mendapat informasi kesehatan, dan kita bukan ahli dibidangnya tetap konsultasikan kepada ahli nya bidang kesehatan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. 


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Posting Terbaru

Game FPS Android Terbaik

Game FPS adalah salah satu jenis game yang memiliki banyak penggemar di Indonesia. Sebelum kemunculan game dengan kategori MOBA seperti ...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel